header-int

Kaprodi PAI menjadi Peserta Sekaligus Presenter Munas PPPAI Indonesia dan Acire 2022 di Yogyakarta

Senin, 02 Feb 2026, 10:09:50 WIB - 10 View
Share
Kaprodi PAI menjadi Peserta Sekaligus Presenter Munas PPPAI Indonesia dan Acire 2022 di Yogyakarta

Keberadaan Perkumpulan Prodi PAI Indonesia (PPPAII) sebagai sebuah Asosiasi Profesi merupakan hal yang sangat penting bagi kemajuan Prodi PAI terutama untuk menunjang akreditasi. Dalam kesempatan Musyawarah Nasional (MUNAS) PPPAI sekaligus Annual Conference (ACIRE) PPPAI Indonesia ke-2 yang diadakan di Mercure Grand Hotel, Yogyakarta selama 3 hari (Rabu-Jum’at, 23-25 Februari 2022), Kaprodi PAI STAINU Purworejo, Siti Khusniyati Sururiyah, M.Pd.I ikut serta hadir sebagai peserta sekaligus presenter dalam acara tersebut. Tentunya dengan kehadiran kaprodi PAI STAINU Purworejo dalam ajang Munas PPPAI Indonesia tersebut merupakan suatu kehormatan, karena menunjukkan bahwa prodi PAI STAINU Purworejo telah diakui keberadaannya dalam forum nasional.

Kegiatan MUNAS PPPAI Indonesia tersebut merupakan ajang untuk mendiskusikan kemajuan Prodi PAI di Indonesia. Kegiatan tersebut dihadiri oleh para Kaprodi maupun Sekprodi PAI yang berjumlah 125 peserta dari 68 kampus dari Sabang sampai Merauke yang tersebar dari berbagai kampus di Indonesia, baik kampus Negeri maupun Swasta. Kegiatan Munas di Yogyakarta ini merupakan kegiatan PPPAI ke-2 yang dalam kesempatan ini yang menjadi tuan rumah adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, setelah tahun 2019 silam MUNAS PPPAI Indonesia ke-1 diadakan di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Jawa Timur.

Kegiatan Munas PPPAI Indonesia ini dibuka pada malam kamis, 23 Februari 2022 dengan Sambutan Kehormatan (Keynote Speakers) oleh Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Hj. Sri Sumarni, M.Pd. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan tentang Tema: Pendidikan Menuju Society 5.0.

Untuk menangkal dampak negatif 4.0, maka pemerintah Republik Indonesia mulai mempersiapkan diri dengan society 5.0, yakni masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era revolusi industri 4.0, dengan cara menyeimbangkan antara dunia ekonomi dan dunia sosial, melalui perpaduan dunia maya dan dunia nyata (blended), yang berorientasi pada rasa bahagia dan damai. Pendidikan di Indonesia diarahkan untuk menerapkan sistem yang relevan dengan 5 pilar UNESCO, yakni: learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together, dan learning to transform oneself and society. Diperlukan kesadaran untuk maju (growth mindset) dan bukan menerima keadaan (fixed mindset), serta berpikir positif dan solutif. Oleh karena itu dibutuhkan shifting paradigma: menjadi penentu perubahan dan pembuat sejarah. Pendidikan harus tampil sebagai subyek utama kemajuan peradaban, sehingga menghasilkan sosok yang menjadi driver bukan passengers, bukan korban perubahan (kasus guru SMP bunuh diri), tutur Prof. Dr. Hj. Sri Sumarni, M.Pd.

Selanjutnya setelah selesai keynote speakers dari Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dilanjutkan dengan Stadium General yang diisi oleh pemateri yakni Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Phil Al Makin, S.Ag, M.A dengan pemaparannya tentang “ PAI menuju masyarakat 5.0”.

Peserta didik harus diajari dengan penanaman pendidikan multikultural, dengan mengajarkan serta membiasakan peserta didik untuk bersikap toleransi dan saling memahami perbedaan. Hendaknya PAI memiliki tugas dengan mengajari peserta didik tentang perbedaan, seperti: tidak semua orang itu muslim; tidak semua muslim itu organisasinya sama. Pentingnya multikultural ini tidak hanya terkait dengan kerukunan antar umat beragama saja, namun juga kerukunan inter umat beragama (sesama muslim yang berbeda organisasi). PAI harus mampu memberikan kerendahan hati dengan cara memberi tempat terhadap perbedaan orang lain.  Apalagi fokus pendidikan di era 5.0 adalah semua ilmu harus berani untuk saling berdialog, jangan hanya berpusat pada monogami keilmuan, sebab itu akan mempersulit kita untuk melihat perbedaan yang ada di sekitar kita. Pendidikan di era 5.0 lebih mengedepankan pada imajinatif kreatif serta sikap multikultural dan multidisiplin, tutur dari Prof. Dr. Phil Al Makin, S.Ag, M.A.

Munas PPPAI Indonesia di hari ke-2 diisi dengan pembukaan ACIRE 2022 dan pelantikan Pengurus PPPAI Indonesia oleh Direktur PAI Kemenag RI: Drs. H. Amrullah, M.Si. Selanjutnya acara diisi oleh pemaparan presentasi dari 2 narasumber, yakni Prof. Dr. Amin Abdullah (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), dan Prof. Dr. Imam Suprayogo (UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang). Acara Munas PPPAI Indonesia setelah habis sholat dhuhur diisi dengan presentasi artikel dari masing-masing kluster. Dalam acara tersebut seluruh peserta Munas dibagi ke dalam 5 ruang kluster sesuai tema yang sudah ditentukan oleh Panitia Munas. Sub tema dalam Munas PPPAI Indonesia di Yogyakarta diantaranya yakni: “(1) Penguatan Keilmuan Pendidikan Agama Islam; (2) Kebijakan Pengembangan Pendidikan Agama Islam; (3) Media, Strategi, dan Teknologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam; (4) Penilaian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam; (5) PAI dan Multikulturalisme: Pendidikan Agama Islam yang Inklusif dan Moderat”.

Dalam kesempatan presentasi makalah dari para peserta yang mengirimkan artikelnya, Kaprodi PAI STAINU Purworejo, Siti Khusniyati Sururiyah, M.Pd.I  ikut serta tampil sebagai presenter artikel di ruang 5, dalam kluster sub tema “PAI dan Multikulturalisme: Pendidikan Agama Islam yang Inklusif dan Moderat”. Kaprodi PAI STAINU Purworejo, Siti Khusniyati Sururiyah, M.Pd.I mempresentasikan artikel kolaborasinya dengan Yunita Furi Aristyasari, M.Pd.I dari Universitas Muhammadiyah Yoagyakarta yang berjudul “Upaya Menangkal Potensi Radikalisme Melalui Pendekatan dan Model Pendidikan Agama Islam”.

Pendidikan yang salah merupakan faktor penyebab munculnya radikalisme di berbagai tempat, khususnya pendidikan agama. Tiga pintu utama masuknya pemahaman radikal dan intoleransi di Lembaga Pendidikan, yakni sebagai berikut: (1) Masuknya melalui kegiatan ekstrakurikuler; (2) Peran guru melalui proses belajar mengajar; (3) Kebijakan institusi yang lemah dalam mengontrol masuknya pengaruh radikalisme di Lembaga pendidikan. Model pembelajaran PAI yang relevan dengan ketercapaian pemahaman agama yang moderat, diantaranya: (a) pembelajaran berbasis kognitif; (b) pembelajaran konstruktivisme; (c) model pembelajaran konektivisme. Hendaknya Guru PAI dapat memilih pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approach), tutur Siti Khusniyati Sururiyah, M.Pd.I.

Dalam pemaparan artikel hasil kolaborasi tersebut diungkapkan bahwa Pembelajaran kognitif merupakan bagian rumpun model pembelajaran contextual teaching learning (CTL), karena berupaya mendorong siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan yang sudah dimiliki dengan penerapan di dalam kehidupan sebagai anggota masyarakat. Salah satu contoh pembelajaran kognitif yakni dengan mengembangkan kemampuan nalar siswa melalui HOTS (Higher Order Thinking Skills), yang meliputi kemampuan menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Selain HOTS, pembelajaran kognitif dapat diterapkan oleh guru PAI dengan menggunakan metode studi kasus dan pemecahan problem riil di masyarakat yang berkaitan dengan isu-isu radikalisme dan terorisme. Melalui pengalaman ini diharapkan akan menumbuhkan pengetahuan dan informasi yang baru terkait sikap dan moral siswa dalam upaya menangkal paham radikalisme.

Selanjutnya model pembelajaran konstruktivisme merupakan salah satu realisasi dari pembelajaran kontekstual, karena pengetahuan siswa dikonstruksi melalui pengalaman riil. Pembelajaran konstruktivisme dapat dirancang oleh Guru PAI dengan menggunakan metode problem-based learning atau studi kasus yang mengangkat isu-isu radikalisme atau ekstrimisme. Selanjutnya pendidik perlu menentukan sebuah grand topik, misalkan tentang Islam wasathiyyah atau Islam moderasi. Melalui model pembelajaran konstruktivisme akan membantu siswa untuk mendapatkan pemahaman yang lebih bermakna tentang wasathiyyah, toleransi, moderasi yang sedang dipelajari, jika dihadapkan pada situasi nyata yang akan menambah makna pemahaman mereka. Model pembelajaran konstruktivisme ini memberikan peluang bagi siswa untuk memiliki dan menemukan solusi (pemecahan masalah) yang dianggap relevan untuk menangkal merebaknya paham radikalisme.

Adapun model pembelajaran konektivisme merupakan model pembelajaran yang berusaha menghubungkan keterkaitan suatu konsep atau realita melalui berbagai bidang atau disiplin ilmu. Guru PAI dapat menerapkan pembelajaran konektivisme ini, karena merupakan pembelajaran era digital yang relevan dalam meningkatkan kemampuan siswa yang dibutuhkan di abad 21, seperti berpikir kritis, keterampilan mengelola masalah, literasi digital, dan sebagainya. Metode collaborative learning menjadi salah satu metode pembelajaran dengan cara menghimpun pengetahuan dari berbagai arah dan berbagai sumber belajar yang tersedia sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar siswa, dengan berbagai teknologi-teknologi terbaru yang dikuasai siswa. Namun demikian sebagai langkah preventif, Guru PAI tetap memiliki otoritas dalam memberikan bimbingan, pencerahan dan informasi yang benar mengenai isu radikalisme serta upaya menghindarinya. Hal ini bertujuan agar siswa tidak mendapatkan informasi yang salah dan terhindar dari doktrinasi pada satu pendapat, serta dapat mengantisipasinya dengan mengintegrasikan berbagai dampak yang ditimbulkan dalam berbagai bidang.

STAINU Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Purworejo merupakan salah satu Perguruan Tinggi di Kabupaten Purworejo yang memiliki salah satu visi yakni menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang kreatif, inovatif dan berwawasan kebangsaan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang kompetitif di era global.
© 2026 PGMI STAINU Purworejo Follow PGMI STAINU Purworejo : Facebook Twitter Linked Youtube